multiple inteligences


1.    Multiple Inteligences
Pembelajaran merupakan hubungan interaksi timbal balik antara peserta belajar dengan guru.1 Di tingkat sekolah dasar, pembelajaran seharusnya dapat dikolaborasikan dengan kegiatan yang menyenangkan, misalnya melalui bermain. Dalam hal ini anak belajar, tapi juga bermain. Pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara bermain ini, sedapat mungkin berkualitas dan efektif. Pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila seluruh komponen yang terlibat dalam pembelajaran dapat saling mendukung, sehingga anak akan memperoleh pemahaman dari apa yang dipelajarinya.  Tingkat pemahaman hasil belajar digambarkan sebagai suatu proses komunikasi. Komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa di sekolah dasar berbeda dengan proses komunikasi yang terjadi pada siswa dengan usia yang relatif lebih dewasa. Proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik apabila siswa dapat dilatih untuk memanfaatkan seluruh alat inderanya. Untuk itulah dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat membantu mengaktifkan seluruh alat indera yang dimiliki siswa dalam sebuah proses pembelajaran yang diberikan.
Pentingnya model pembelajaran multiple intelligence adalah siswa dapat belajar sambil meningkatkan seluruh potensi kecerdasan yang dimilikinya karena kecerdasan dapat distimulasi, dikembangkan sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan yang baik, dan pengajaran. Pendidik lebih arif dan mampu menghargai serta memfasilitasi perkembangan anak. Dengan mengoptimalkan atau mengembangkan multiple intelligences pembelajaran akan lebih efektif. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai teori, pengertian, macam-macam,
Pendahuluan Istilah inteligensi sangat akrab dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena pendidikan dihadapkan pada anak-anak dengan berbagai kemampuan inteligensi. Pendidik harus memahami keragaman inteligensi anak didik. Pemahaman keragaman diperlukan untuk dapat memberikan layanan yang tepat untuk mencapai tujuan pendidikan. Manusia dapat mempertahakan kelangsungan hidup dan mengembangkan diri karena mempunyai sejumlah kemampuan. Menurut Sukmadinata (2003 : 92), kemampuan atau kecakapan dapat dibagi menjadi dua. Pertama, kecakapan potensial (potential ability) atau kapasitas (capacity). Kecakapan potensial merupakan kecakapan yang masih tersembunyi, belum termanifestasikan dan dibawa dari kelahirannya. Kecakapan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu inteligensi (intelligence) dan bakat (aptitude).
Inteligensi merupakan kapasitas umum, sedang bakat merupakan kapasitas khusus. Kedua, kecakapan nyata (actual ability) atau prestasi (achievement). Kecakapan nyata merupakan kecakapan yang sudah terbuka, termanifestasikan dalam berbagai aspek kehidupan dan perilaku. Kecakapan ini berpangkal pada kecakapan potensial. Kecakapan terbentuk karena pengaruh lingkungan. Inteligensi merupakan salah satu kemampuan manusia. Kemampuan inteligensi bersifat potensial dan merupakan kecakapan umum. Kecakapan ini dapat terwujud menjadi kecakapan nyata karena bantuan lingkungan. Meski inteligensi sangat penting dalam pendidikan, rentang pemahaman mengenai konsep ini sangat bervariasi. Akibatnya timbul perdebatan konsep inteligensi dalam pelaksanaan pendidikan. Tulisan ini membuat kajian teoritik mengenai inteligensi, khususnya inteligensi sebagai kemampuan intelektual. Kajian berangkat dari masalah: 1) Bagaimana konsep inteligensi? 2) Apakah inteligensi merupakan heridititas atau modifikasi? 3) Bagaimana hubungan inteligensi dengan bakat, kreativitas dan prestasi? 4) Bagaimana perkembangan teori inteligensi? dan5) Bagaimana melakukan pengukuran inteligensi? Oleh karenanya tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui: 1) konsep inteligensi, 2) inteligensi merupakan heriditas atau modifikasi, 3) hubungan inteligensi dengan bakat, kreativitas dan prestasi, 4) perkembangan teori inteligensi, 5) cara melakukan pengukuran inteligensi.

2.     Teori Multiple Intelegences
Teori Howard Gardner tentang multiple intelligences memanfaatkan aspek kognitif dan perkembangan psikologi, antropologi, dan sosiologi untuk menjelaskan kecerdasan manusia. Meskipun konsep ini telah dipelajari bertahun-tahun sebelumnya, teori ini baru diperkenalkan pada tahun 1983, dalam buku Gardner, Frames of Mind.
Yang mendasari pemikirannya adalah berawal dari kegelisahan Howard Gardner. Menurutnya selama ini para pendidik telah melakukan kekeliruan karena menganggap tes kecerdasan atau tes IQ adalah satusatunya ukuran yang paling dapat dijadikan patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Menurut Gadner, kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup, kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang. 
Gardner bersama rekan-rekannya yang mengembangkan penelitian untuk mengembangkan konsep multiple intelligences tidak hanya menilai kecerdasan dengan cara menguji kemahiran seseorang memahami dan menyelesaikan soal-soal logika-matematika (sebagaimana yang dilakukan dalam tes IQ). Bersama tim, Gardner mengembangkan cara-cara mengukur kemampuan individu untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu.
Gardner melakukan penelitian terhadap otak manusia dan mewawancara para korban stroke, prodigies, dan individu dengan autisme. Berdasarkan penelitian itu, delapan kriteria yang digunakan oleh Gardner untuk mengidentifikasi kecerdasan. Hal ini dimaksudkan agar kedelapan jenis kecerdasan tersebut berkembang sepenuhnya, bukan sekedar bawaan, kemampuan atau bakat
Poin-poin Kunci dalam Teori Multiple Intelegence Menurut teori multiple intelligences, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; (1) Setiap orang memiliki kedelapan kecerdasan, hanya saja profil tiap orang mungkin berbeda. Ada yang tinggi pada semua jenis kecerdasan ada pula yang hanya rata-rata dan tinggi pada dua atau tiga jenis kecerdasan, (2) Orang dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai; Kecerdasan dapat distimulasi, dikembangkan sampai batas tertinggi melalui pengayaan, dukungan yang baik, dan pengajaran, (3) Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks. Dalam aktivitas sehari-hari, kecerdasan saling berkaitan dalam satu rangkain : menendang bola (kinestetik), orientasi diri di lapangan (spasial), mengajukan protes ke wasit (linguistik dan (4) Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori Seseorang yang cerdas linguistik mungkin tidak pandai menulis, tetapi pandai bercerita dan berbicara secara memukau. 

3.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Taraf Intelegensi

Menurut Bayley faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan
intelektual individu, yaitu:
a.     Keturunan 
Studi korelasi nilai-nilai tes intelegensi diantara anak dan orang tua, atau dengan kakek-neneknya menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai pada tingkat tertentu.

b.     Latar belakang sosial ekonomi
Pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya, berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai 3 tahun sampai dengan remaja.
c.     Lingkungan hidup
Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan kemampuan intelektual yang kurang baik pula. Lingkungan yang dinilai paling buruk bagi perkembangan intelegensi adalah panti-panti asuhan serta institusi lainnya, terutama bila anak ditempatkan disana sejak awal kehidupannya.
d.     Kondisi fisik
Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kemampuan mental yang rendah.
e.     Iklim emosi
Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan.14 Sebagaimana telah diuraikan diatas, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi taraf intelegensi seseorang. Maka sebagai seorang guru, salah satu tugas serta kewajiban yang harus dipenuhi adalah membantu mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat berfungsi secara optimal dan mencoba melengkapi program pengajaran yang ditujukan bagi mereka yang lambat dalam belajar. Adapun cara yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan memperhatikan kondisi kesehatan fisik siswa, membantu pengembangan sifat-sifat positif pada diri siswa, memperbaiki kondisi motivasi siswa, menciptakan kesempatan belajar yang lebih baik bagi siswa.

Dalam membantu mengembangkan sifat-sifat positif pada diri siswa seperti percaya diri, perasaan diri dihargai, guru dapat melakukan dengan cara menaruh respect terhadap pertanyaan-pertanyaan serta gagasangagasan yang diajukan siswa sehingga dapat membantu meningkatkan keyakinan diri siswa serta perasaan bahwa dirinya dihargai. Selain itu agar perasaan-perasaan cemas, rendah diri, tegang, konflik atau salah dapat dihindari oleh siswa. (Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya,
Sedangkan untuk memperbaiki kondisi motivasi siswa, guru dapat melakukannya dengan memberikan insentif atas keberhasilan yang diraih siswa yaitu dapat berupa pujian atau nilai yang baik. Selain itu guru juga dapat memberikan kesempatan melaksanakan tugas-tugas yang relevan, seperti di dalam kelompom diskusi, di muka kelas, pembuatan karya tulis, dan lain-lain untuk menciptakan kesempatan belajar yang lebih baik bagi siswa.

4.     Macam-Macam Multiple Intelegences
Howard Gardner mengidentifikasi ada 8 macam kecerdasan manusia dalam memahami dunia nyata, kemudian diikuti oleh tokoh-tokohlain dengan menambahkan dua kecerdasan lagi, sehingga menjadi 10 macam kecerdasan. Berikut akan dijelaskan secara singkat kesepuluh kecerdasan tersebut, yaitu:

1)             Kecerdasan Bahasa (Verbal- Linguistik Intelegence)
Merupakan kecakapan berpikir melelui kata- kata, menggunakan bahasa untuk menyatakan dan memmaknai arti yang kompleks.
Contoh: Para Penulis, Ahli Bahasa, Sastrawan, Jurnalis, Orator.

2)             Kecerdasan Matematis (Logical- Mathemaical Intelegence)
Merupakan kecakapan untuk menghitung, mengkualitatif,merumuskan proposisi,hipotesis, serta memecahkan perhitungan- perhitungan matematis yang kompleks.
Contoh: Para Ilmuan, Ahli Matematis, Akuntan, Insinyur, Pemrogram Komputer.

3)              Kecerdasan Ruang ( Visual- Spatial Intellegence)
Merupakan kecakapan berpikir dalam ruang 3 dimensi.Mampu menagkap bayangan ruang internal dan eksternal untuk penentuan arah dirinya atau benda yang dikendalikan, mengubah dan menciptakan karya 3 dimensi nyata.
Contoh: Pilot, Nahkoda, Astronot, Pelukis, Arsitek.
           
4)             Kecerdasan Kinestetik/Gerak Fisik (Kinesthetik Intelegence)
Merupakan kecakapan untuk melakukan gerakan dan ketrampilan , kecakapan fisik seperti olah raga.
Contoh: Penari, Olahragawan, Pengrajin Profesional,

5)              Kecerdasan Musik ( Musical Intellegence)
Kecakapan yang dimiliki seseorang untuk menghasilkan dan menghargai musik, sensitive terhadap melodi, ritme, nada, tangga nada.
Contoh: Komponis, Dirigen, Musisi, Kritikus penyanyi, Kritikus musik, Pembuat instrument    musik,

6)             Kecerdasan Hubungan Sosial ( Interpersonal Intellegence).
Kecakapan memahami dan merespon serta berinteraksi dengan orang lain dengan tepat, watak, tempramen, motivasi dan kecenderungan terhadap orang lain
                              Contoh: Guru, Konselor, Aktor,Politikus

7)             Kecerdasan Kerohanian ( Intrapersonal Intellegence).
Kecakapan untuk memahami kehidupan emosional, membedakan emosi orang-orang, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri Kecakapan membentuk persepsi yang tepat terhadap orang, menggunakannya dalam merencanakan dan merencanakan dan mengarahkan kehidupan yang lain.
                              Contoh: Psikolog, Psikiater, Filosof, Rohaniawan

8)              Kecerdasan Naturalis
                  Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.





9)              Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual banyak dimiliki oleh para rohaniawan. Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhannya. Kecerdasan ini dapat dikembangkan pada setiap orang melalui pendidikan agama, kontemplasi kepercayaan, dan refleksi teologis.

10)          Kecerdasan Eksistensial ( exsistensialist intelligence)                       
Kecerdasan eksistensial banyak dijumpai pada para filsuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya. Melalui kontemplasi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat berkembang.
Pada dasarnya semua orang memiliki semua macam kecerdasan di atas, namun tentu saja tidak semuanya berkembang atau dikembangkan pada tingkatan yang sama, sehingga tidak dapat digunakan secara efektif. Pada umumnya satu kecerdasan lebih menonjol/ kuat dari pada yang lain. Tetapi tidak berarti bahwa hal itu permanen/ tetap. Di dalam diri manusia tersedia kemampuan untuk mengaktifkan semua kecerdasan tersebut. Teori Garnerd ini memang masih memerlukan penelitian lebih lanjut khususnya tentang strategi pengukuran untuk masing-masing jenis kecerdasan, serta apakah macam-macam kecerdasan yang ada adalah sejumlah yang telah diuraiakan di atas atau masih bisa bertambah lagi.


5.    Konsep Multiple Intelligence (kemajemukan Intelegensi)
Teori tentang multiple intelligences ini bedasarkan pakar psikologi Harvard Howard Gardner. Gardner mengemukakan bahwa pandangan klasik percaya bahwa intelegensi merupakan kapasitas kesatuan dari penalaran yang logis, dimana kemampuan abstraksi sangat bernilai. Pandangan ini berdasar pada teori general “g” intellegence dari Spearman yang menganggap intelegensi sebagai kekuatan mental yang timbul selama aktifitas intelektual dan dapat digambarkan dalam berbagai tingkatan. Sama dengan Thurstone dan beberapa ahli psikometri lain Gardner melihat bahwa intelegensi merupakan meliputi beberapa kemampuan mental. Namun, demikian psikologi harvard tersebut tidak terlalu peduli dengan bagaimana menjelaskan dan menuangkannya dalam skor tes psikometri yang bersifat lintas budaya.
Intelegensi menurut Gardner merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam situasi budaya atau komunitas tertentu, yang terdiri dari tujuh macam intelegensi. Meskipun demikian, Gardner menyatakan bahwa jumlah tersebut bisa lebih atau kurang, tapi jelas bukan hanya satu kapasitas mental. Pertanyaan tentang kenapa individu memilih berada dalam peran-peran yang berbeda (ahli fisika, petani, penari), memerlukan kerja berbagai kecerdasan sebagai suatu kombinasi dalam penjelasannya.
Kecerdasan menurutnya merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masalalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita dan bukan bergntung pada nilai IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.


Komentar

Postingan Populer