lupa dalam belajar
1. Pengertian Lupa
Lupa adalah peristiwa
tidak dapat ditimbulkannya kembali informasi-informasi yang telah diterima dan
disimpannya. Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi
kembali
apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. lupa mungkin bukan hal yang asing
atau tabu dikalangan masyarakat, lupa sering kali terjadi pada semua orang , baik yang
kecil, remaja, dewasa, hingga yang tua, yang miskin dan yang kaya pun tak luput
dari lupa, ya memang itulah kodrat manuisa adalah tempatnya salah dan lupa,
lupa ialah hilangnya
kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah
kita pelajari. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai
ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau
dialami. Jadi lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan
dari akal kita.
Muhibbinsyah (1996) dalam bukunya yang berjudul
psikologi pendidikan mengartikan lupa sebagai hilangnya kemampuan untuk
menyebut kembali atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita
pelajari secara sederhana. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa
sebagai ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dialami
atau dipelajari, dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item
informasi dan pengetahuan dari akal kita
2.
Proses Terjadinya Lupa
Ada empat tahap dalam proses terjadinya lupa, yaitu:
1. Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak
kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses
metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita
tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, karena tidak digunakan, materi itu
lenyap sendiri.
2. Mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja,
melainkan mengalami perubahan-perubahan secara sistematis, mengikuti
prinsip-prinsip sebagai berikut: Penghalusan:
materi berubah bentuk ke arah bentuk yang lebih simatris, lebih halus dan
kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi. Penegasan: bagian-bagian yang paling mencolok
dari suatu hal adalah yang paling mengesankan. Karena itu, dalam ingatan
bagian-bagian ini dipertegas, sehingga yang diingat hanyalah bagian-bagian yang
mencolok, sedangkan bentuk keseluruhan tidak begitu diingat. Asimilasi: bentuk yang mirip botol misalnya,
akan kita ingat sebagai botol, sekalipun bentuk itu bukan botol. Dengan
demikian, kita hanya ingat sebuah botol, tetapi tidak ingat bentuk yang asli.
Perubahan materi di sini disebabkan bagaimana wajah orang itu tidak kita ingat
lagi.
3. Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan
hal-hal yang sudah kita ingat, tidak dapat kita ingat lagi. Dengan kata lain, materi
kedua menghambat diingatnya kembali materi pertama. Hambatan seperti ini
disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya, mungkin pula materi yang baru kita
pelajari tidak dapat masuk dalam ingatan, karena terhambat oleh adanya materi
lain yang terlebih dahulu dipelajari, hambatan seperti ini disebut hambatan
proaktif.
4. Ada kalanya kita melakukan sesuatu. Hal ini disebut
represi. Peristiwa-peristiwa mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikan dan
sebagainya, atau semua hal yang tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita
lupakan dengan sengaja (sekalipun proses lupa yang sengaja ini terkadang tidak
kita sadari, terjadi diluar alam kesadaran kita). Pada bentuknya yang ekstrim,
represi dapat menyebabkan amnesia, yaitu lupa nama sendiri, orang tua, anak dan
istri dan semua hal yang bersangkut paut dirinya sendiri. Amnesia ini dapat
itolong atau disembuhkan melalui psikoterapi atau melalui suatu peristiwa yang
sangat dramatis sehingga menimbulkan kejutan kejiwaan pada penderita. (Ahmad
Fauzi, 1997: 52-54)
3.
Faktor-faktor
Penyebab Terjadinya Lupa
Pertama, lupa dapat terjadi karena
sebab gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam
system memori siswa. Dalam interference theory (teori mengenai
gangguan), gangguan konflik ini terbagi menjadi dua, yaitu: 1) practice
interference; 2) retroactive interference (Reber
1988; Best 1989; Anderson 1990)
Seorang
siswa akan mengalami gangguan proactive apabila materi
pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu
masuknya materi pelajaran baru. Peristiwa ini bisa terjadi apabila siswa
tersebut mempelajari sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi
pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang waktu yang pendek. Dalam hal
ini materi yang baru saja dipelajari akan sangat sulit diingat atau diproduksi
kembali.
Sebaliknya,
seorang siswa akan mengalami ganguan retroactive apabila
materi pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan kembali
materi pelajaran lama yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal
permanen siswa tersebut. Dalam hal ini, materi pelajarn lama akan sangat sulit
diingat atau diproduksi kembali. Dengan kata lain siswa tersebut lupa akan
materi peajaran lama itu.
Kedua, lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena
sebab adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja maupun tidak.
Penekanan ini terjadi karena beberapa sebab, yaitu:
Karena
item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan, dan sebagainya) yang
diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya
hingga ke alam ketidaksadaran
- Karena item informasi yang baru secara
otomatis menekan item informasi yang telah ada, jadi sama dengan
fenomena retroactive
- Karena item informasi yang akan direproduksi
(diingat kembali) itu tertekan ke alam bawah sadar dengan sendirinya
lantaran tidak pernah dipergunakan
Ketiga,
lupa dapat terjadi karena sebab perubahan sikapdan minat siswa terhadap proses
dan situasi belajar tertentu. Jadi, meskipun seorang siswa telah mengikuti
proses belajar-mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karena sesuatu hal
sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena
ketidaksenangan terhadp guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.Keempat,
menurut law of disuse (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat
terjadi karena sebab materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah
digunaakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang
diperlakukan demikian akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga
bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
Kelima, lupa tentu saja dapat terjadi karena sebab
perubahan urat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti
keracunan, kecanduan alcohol, dan geger otak akan kehilangan ingatan ata
item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.
4.
Solusi Mengatasi Lupa
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah
dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat
dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara Barlow (1985), Reber
(1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai berikut:
1.
Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya
belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu.
Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa
melakukan pembelajaran atau respons tersebut dengan cara di luar kebiasaan.
Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks
pancasila pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap
P4 lebih kuat.
2.
Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah
upaya penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah
jam belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan
belajar materi tertentu. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat
melindungi memori dari kelupaan.
3.
Mnemonic Device
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering
juga disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait”
mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa.
4.
Pengelompokkan
Maksud kiat pengelompokkan (clustering) ialah
menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap
lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal
yang sama atau sangat mirip.
5.
Latihan Terbagi
Lawan latihan terbagi (distributed practice)
adalah massed practice (latihan terkumpul) yang sudah dianggap tidak efektif
karena mendorong siswa melakukan cramming. Dalam latihan terbagi siswa
melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat. Upaya demikian dilakukan untuk
menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara tergesa-gesa dalam
waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice, siswa dapat
menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.
6.
Pengaruh Letak Bersambung
Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh
letak bersambung (the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar
kata0kata (nama, istilah dan sebagainya) yang diawali dan diakhiri dengan
kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat siswa tersebut sebaiknya
ditulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar tampak sangat
berbeda dari kata-kata yang lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan demikian,
kata yang ditulis pada awal yang akhir daftar tersebut memberi kesan tersendiri
dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen siswa. (Muhibbin
Syah, 1996: 160-164)
Adapun cara mengatasi lupa
belajar menurut Islam sebagai berikut :
1.
Menjauhi perbuatan maksiat
Karena
ilmu merupakan cahaya, dan cahaya akan sulit masuk pada orang yang hatinya
kotor.
2.
Memakai siwak dengan batang cabang
arok
Bersiwak
disunnahkan menggunakan kayu arok. Karena di dalamnya mengandung zat kimia yang
dapat meningkatkan ingatan. Kayu arok memiliki faedah yang sangat banyak yaitu
meningkatkan ingatan, meminimalisir kepikunan waktu tua, dan memudahkan ketika
sakarotul maut.
3.
Berwudhu
Sebelum
belajar, hendaknya setiap individu melakukan wudlu dan menjaga dirinya agar
selalu mempunyai wudlu (da’imul wudlu). Karena syetan tidak suka pada orang
yang dalam keadaan suci. Maka dalam belajar, kita akan lebih mudah menerima
pelajaran.
4. Belajar pada waktu-waktu mustajab
Dalam
islam mengenal waktu-waktu mustajab, di mana pada waktu itu do’a orang muslim
akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah (InsyaAllah). Di antara waktu
belajar yang tepat adalah pada pertengahan malam (setelah selesai melakukan
sholat malam) dan sesudah subuh.
Komentar
Posting Komentar